Minggu, 20 Desember 2015


BAB I
PENDAHULUAN

A.                 LATAR BELAKANG

Ashma adalah penyakit saluran nafas kronik yang penting dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara di seluruh dunia. Asma dapat bersifat ringan dan tidak mengganggu aktiviti bahkan akan bersifat menetap dan mengganggu aktiviti bahkan kegiatan sehari-hari. Produktiviti menurun akibat mangkir kerja atau sekolah, dan dapat menimbulkan disability (kecacatan), sehingga menambah penurunan produktiviti serta menurunkan kualiti hidup.

Menurut WHO sebanyak 100 hingga 150 juta penduduk dunia adalah penyandang asma. Jumlah ini terus bertambah banyak sebanyak 180.000 orang setiap tahunnya. Dari tahun ke tahun prevalansi penderita asma semakin meningkat. Di indonesia, dari tahun ke tahun prevalensia penderita asma semakin meningkat. Di indonesia, penelitian pada anak usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuesioner ISAAC (International study on ashma and allergy in children) tahun 1995 menunjukan, prevalensia asma masih 2,1% dan meningkat tahun 2003 menjadi dua kali lipat lebih yakni 5,2 %. Kenaikan Prevalensia di inggris dan di australia mencapai 20-30%. National Heart,Lung and Blood Institute melaporkan bahwa asma di derita oleh 20 juta penduduk Amerika.

Angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkat sejalan dengan perubahan pola hidup masyarakat modern, polusi baik lingkungan maupun zat-zat yang ada didalam makanan.salah satu penyakit alergi yang banyak terjadi di masyarakat adalah penyakit asma. (Medlinux,2008)

B.                 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah tentang asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien asma.
C.                 TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien dengan asma.



BAB II
PEMBAHASAN

1.      Definisi
Asma disebut juga sebagai reactive airway disease (RAD), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara riversibel yang ditandai dengan inflamasi, dan peningkatan reaksi jalan nafas terhadap stimulan. (Suriadi,2010)
Asma yaitu suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu yang menyebabkan peradangan dan penyempitan yang bersifat sementara. Asma merupakan penyakit paru yang tidak menular.Pada penderita asma , penyempitan saluran pernafasan merupakan respon terhadap rangsangan yang pada paru-paru normal tidak akan mempengaruhi saluran pernafasan. Seperti serbuk sari,debu, bulu binatang,asap udara dingin, dan olahraga. (Iskandar junaidi,2011)
2.      Pathofisiologi
a.       Asma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan napas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.
b.      Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibodi tubuh muncul (immunoglobulin E atau IgE) dengan adanya alergi. IgE dimunculkan pada receptor sel mast yang menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asma.
c.       Respon asma terjadi dalam tiga tahap; pertama tahap immediate yang ditandai dengan bronkokonstriksi (1-2 jam),tahap delayed dimana bronkokontriksi dapat berulang dalam 4-6 jam dan terus menerus 2-5 jam lebih lama; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan.
d.      Asma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena latihan kecemasan dan udara dingin.
e.       Selama serangan ashmatik, bronkiolus menjadi meradang dan peningkatan sekresi mokus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resistensi jalan nafas dan dapat menimbulkan distres pernafasan.
f.       Anak yang mengalami asma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekshalasi karena edema pada jalan nafas. Dan ini menyebabkan hiperinflamasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas. Jalan nafas menjadi obstruksi yang kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi O2, sehingga terjadi penurunan pO2 (hypoxia). Selama serangan asmatik, co2 tertahan dengan meningkatnya resistensi jalan nafas selama ekspirasi,dan menyebabkan acidosis respiratory dan hypercapnea. Kemudian sistem pernafasan akan mengadakan kompensasi dengan meningkatkan pernafasan (tachypnea), kompensasi tersebut menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar co2 dalam darah (hypocapnea).
3.      Komplikasi
-          Mengancam pada gangguan keseimbangan asama basa dan gagal nafas
-          Chronic persistent bronchitis
-          Bronchitis
-          Pneumonia
-          Emphysema
4.      Etiologi
-          Faktor ekstrinsik : Reaksi antigen antibodi ; karena inhalasi alergen (debu,serbuk serbuk, bulu binatang)
-          Fator intristik : infeksi : para influenza virus, pneumonia, mycoplasmal. Kemudian dari fisik; cuaca dingin, perubahan temperatur. Iritan ; kimia: polusi udara (CO ,asap rokok, parfum). Emosional ; takut, cemas, dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.
5.      Manifestasi klinis
-          Wheezing
-          Dyspnea dengan lama ekspirasi;penggunaan otot-otot assesori pernafasan,cuping hidung, retraksi dada, dan stridor.
-          Bentuk kering (tidak produktif )karena sekret kental dan lumen jalan nafas sempit
-          Tachypnea, tachycardia, orthopnea
-          Gelisah
-          Berbicara sulit atau pendek karena sesak nafas
-          Diaphorosis
-          Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan
-          Fatigue
-          Tidak toleran terhadap aktivitas ;makan,bermain,berjalan,bahkan bicara
-          Kecemasan,labil dan perubahan tingkat kesadaran
-          Meningkatnya ukuran diameter anterosposterior (barel chest)
-          Serangan yang tiba-tiba atau berangsur –angsur
-          Auskultasi; terdengar ronkhi dan crackles
6.      Pemeriksaan Diagnostik
-          Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
-          Foto rontgen
-          Pemeriksaan fungsi paru; menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum.
-          Pemeriksaan alergi (radioallergasorbent test; RAST)
-          Pulse oximetary
-          Analisa gas darah
7.      Penatalaksanaan
-          Serangan akut dengan oksigen nasal atau masker
-          Terapi cairan parenteral
-          Terapi pengobatan sesuai program

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian dengan pendekatan ABCD
1.   Airway
-       Kaji dan pertahankan jalan nafas
-       Lakukan head til,chin lift jika perlu
-       Gunakan bantuan untuk memperbaiki jalan nafas jika perlu
-       Pertimbangkan untuk di rujuk ke anesthesist untuk dilakukan intubasi jika tidak mampu untuk menjaga jalan nafas atau pasien dalam kondisi terncam kehidupannya atau penderita asma berat
-       Jika pasien menunjukan gejala yang mengancam kehidupan,yakinkan mendapatkan pertolongan medis secepatnya.
2.   Breathing
-       Kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter,dengan tujuan mempertahankan saturasi oksigen>92%.
-       Berikan aliran oksigen tinggi melalui non re-breath mask
-       Pertimbangkan untuk menggunakan bag-valve-mask-ventilation
-       Ambil darah untuk pemeriksaan arterial blood gases untuk mengkaji paO2 dan PaCo2
-       Kaji respiratory rate
-       Jika pasien mampu, Rekam peak expiratory flow dan dokumentasi
-       Periksa sistem pernafasan – cari tanda :
a.    Syanosis
b.   Deviasi trachea
c.    Kesimetrisan pergerakan dada
d.   Retraksi dada (dengarkan adanya wheezhing,pengurangan aliran udara masuk, silent chest)
-       Berikan nebuliser bronchodilator melalui oksigen – salbutamol 5mg dan ipratropium 500mcg.
-       Berikan prednisolon 40 mg per oral atau hydrocortison 100 mg IV setiap 6jam
-       Lakukan thorax photo untuk mengetahui adanya pneumothorax
3.   Circulation
-       Kaji denyut jantung dan rhytme
-       Catat tekanan darah
-       Lakukan EKG
-       Berikan akses IV dan pertimbangkan pemberian magnesium sulphat 2 gram dalam 20menit
-       Kaji intake output
-       Jika pottasium rendah maka berikan pottasium
4.   Disability
-          Kaji tingkat kesadaran
-          Penurunan tingkat kesadaran merupakan tanda ekstrim yang paling pertama dan pasien membutuhkan pertolongan pertama intensive
5.   Eksposure
-          Selalu mengkaji dengan menggunakan test kemungkinan bronchitis
-          Jika pasien stabil lakukan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik lainnya.

B.  Diagnosa Keperawatan
-          Ketidak efektifan jalan nafas b.d penumpukan sputum
-          Ketidak efektifan pola nafas b.d penurunan kemampuan bernafas
-          Fatigue b.d hypoxia dan meningkatnya usaha nafas
-          Kurangnya pengetahuan b.d proses penyakit dan pengobatan
C.  Intervensi Keperawatan
-          Dx1 :
1.      Kaji usaha dan frekuensi nafas pasien
Rasional : mengetahui tingkat usaha nafas pasien
2.      Auskultasi bunyi nafas dengan mendekatkan telinga pada hidung pasien serta pipi ke mulut
Rasional : untuk mengetahui adanya usaha nafas pasien
3.      Pantau ekspansi dada pasien
Rasional : untuk mengetahui masih adanya pengembangan dada pasien
-          Dx2 :
1.      Pantau tanda-tanda vital (nadi,warna kulit) dengan menyentuh nadi jugularis
Rasional :
2.      Kaji tanda-tanda sianosis
Rasional :